Tulisan ini terinspirasi dari artikel tentang Corey Tailor (vocalist Slipknot) yang setuju dengan illegal downloading musik di bumi ini.
“Saya memiliki sudut pandang yang berbeda akan masalah ini dari kebanyakan orang banyak. Ada banyak orang di industri musik yang menyalahkan pada aksi pengunduhan ilegal. Tapi saya pikir jika kebanyakan musik masa kini tidak mulai memburuk, maka orang-orang tidak akan mulai mengunduh secara gratis dari internet”. (dikutip dari techno.okezone.com)
Dalam artikel tersebut Taylor mengemukakan bahwa pengunduhan secara ilegal yang dilakukan disebabkan karena kualitas musik yang merosot. Kualitas musik yang memburuk membuat para penikmatnya merasa tidak mau rugi membeli CD / Cassete yang diproduksi tersebut. Taylor, yang biasa menggunakan topeng ketika beraksi di panggung itu, meyakini bahwa penikmat musik akan membeli lagu-lagu yang berkualitas saja.
Oke, itu masuk akal. Tapi sebenarnya kalau tidak suka dengan musik-musik ‘sampah’, maka untuk apa diunduh? Ukuran kerelatifitasan kegemaran akan sejenis musik itu sangat tinggi. Kecuali bagi para pengamat musik yang mereka (mungkin) bisa lebih objektif dalam menilai.
Kalau masalah musik ‘sampah’, maaf-maaf kata, Indonesia jadi salah satu rajanya. Karena nilai komersialitas yang amat tinggi, apapun musiknya mau mau saja dilakoni. Bahkan kadang keluar dari prinsip si penyanyi / personil band. Yang penting laku. Ini sah-sah saja sebenarnya. Hanya ketika dikaitkan dengan maraknya pengunduhan ilegal, saya rasa berbeda.
Menurut saya pengunduhan ilegal dilakukan karena alasan yang simpel, lebih murah. Ketika mengunduh dari internet hanya 5 menit dapat 1 lagu, mungkin biayanya hanya 50 perak. Ini diperhitungkan misal menggunakan biaya warung internet yang harganya 3000 rupiah per jam. Lalu kita kalikan 10 lagu, maka kurang lebih hanya 5000 rupiah, sementara membeli CD / kaset ya habis 25000 sampai 75000-an. Hahaha ingin tertawa juga setelah sadar akan hal ini.
Alasan lain mungkin juga karena gadget yang beredar jaman sekarang ini memang menfasilitasi kita untuk mendengarkan musik dengan kapasitas ekstra besar dan mobilitas yang tinggi. Musik berformat mp3, mpeg, dan lainnya notabene mudah didapat dari unduhan. Kalau membeli kaset tentu tidak bisa dijadikan format mp3 (kecuali dengan cara jadul mereka di handphone, betapa membuang-buang waktu yah). Kalau CD kita harus repot-repot merubah menjadi format mp3 (rip cd). Jadi, betapa mudahnya ketika mengunduh musik lalu dipindahkan ke gadget dan tadaaa bisa didengar dimana-mana.
Masih banyak lagi alasan sebenarnya, tapi saya setuju dengan pernyataan Taylor yang menyebutkan bahwa penikmat musik akan membeli album artis yang berkualitas. Menurut saya kalau penggemar sejati sebuah band / penyanyi ya tentu membeli yang asli (pengalaman pribadi, hihihi). Tapi bila tetap mengunduh secara ilegal musisi favorit kita, hal ini bukan karena menguragi nilai kefavoritan. Ini lebih karena kemudahan dan kemurahan proses mendapatkannya.
Yang bisa diambil hikmahnya adalah semakin ada masalah, manusia semakin bisa menciptakan hal-hal kreatif baru. Contohnya saja akibat fenomena illegal downloading ini, muncullah model baru pembelian musik yaitu Ring Back Tone (RBT). RBT ini dikenal bisa lebih menguntungkan daripada penjualan kaset. Hanya pagi penggemar musisi hal ini kurang memuaskan karena tidak ada bentuk fisik lirik-lirik lagu dan foto di albumnya, apalagi yang mendengarkan RBT kan menelepon ponsel kita (bukan kita). Hahaha.
Semua sistem ada kekurangan dan kelebihan. For attention people free to makes their opinions guys! Keep love enjoy to the music cause can give your hormone raise to be happy
Arsip Bulanan: Januari 2011
Illegal Downloading : Musik-musik Sampah
Ditulis pada Musik, Sekitar Nikha Akbariah
Di-tag illegal downloading, musik, nikha akbariah